Shalom. Puji Tuhan, atas perkenanan-Nya buku Panduan Liturgi GKKA INDONESIA ini bisa disusun. Buku ini merupakan edisi revisi dari buku Pegangan Tata Cara Ibadah, yang disusun pada 01 Mei 2003 oleh Departemen Teologia GKKA INDONESIA. Proses revisi buku tata ibadah GKKA INDONESIA ini dimulai sejak Sidang Raya XII di Kendari, dimana salah satu keputusannya adalah menugaskan MPHS menerbitkan buku Liturgi, buku katekisasi dan buku bimbingan pranikah yang direvisi.
Menurut hemat saya, penyusunan buku Panduan Liturgi ini sudah
selayaknya kita upayakan. Hal ini
mempertimbangkan ada beragam kebutuhan terkait liturgi, yang nampaknya belum
bisa terakomodasi dengan buku Pegangan Tata Ibadah, yang umurnya hampir dua
dasawarsa itu. Setidaknya ada tiga
kebutuhan yang mendesak akan revisi ini.
Kebutuhan pertama, adalah
menemukan dasar acuan. Kita
bersyukur untuk adanya pegangan bersama Tata Ibadah kita sejak 2003. Namun kita harus mengakui bahwa kita belum
punya penjelasan dan alasan, terkait dengan bentuk dan susunan liturgi kita
selama ini. Kita bersyukur dengan
hadirnya rekan-rekan yang menekuni bidang ibadah. Mereka membantu kita dalam kajian teologis
liturgi, juga dalam menilik perkembangan ilmu liturgika, serta mempertimbangkan
perkembangan dinamika liturgika masa kini, tanpa mengorbankan warisan nilai
sejarah kita.. Hasil kerja tim ini
berbuah dan mengkristal dalam 10 poin Worship Statements GKKA INDONESIA.
Kebutuhan kedua, adalah
menemukan esensi dari liturgi kita. Harus
diakui, terkait liturgi ibadah,
masing-masing jemaat lokal GKKA INDONESIA memiliki preferensi yang berbeda-beda. Tak jarang perbedaan-perbedaan itu
menimbulkan ketegangan-ketegangan, dan perasaan “kok beda ya, padahal sama-sama
GKKA”. Perumusan revisi liturgi ini
mempertimbangkan tiga aspek; esensi, ekspresi, dan excellently. Kita harus sama dalam hal-hal yang esensial;
kita bisa lebih fleksibel dalam hal-hal yang bersifat ekspresi; dan dalam kedua
hal itu, kita upayakan pelayanan ibadah yang excellent.
Kebutuhan ketiga, adalah
menemukan relevansi ibadah kita. Selama dua dasawarsa belakangan ini ada
perkembangan yang pesat di dunia ilmu liturgika. Ada banyak konsep liturgi yang ditawarkan ke
gereja-gereja. Di sisi lain, generasi
gereja pun berganti. Ada kondisi dan
kebutuhan yang tak lagi sama antara generasi milenial dengan generasi-generasi
sebelumnya. Kita perlu berbesar hati
memberi ruang yang cukup bagi milenial GKKA INDONESIA untuk menemukan bentuk
ibadah yang relevan bagi pertumbuhan iman mereka. Semoga, dengan perangkat kebijakan liturgi
ini dan dengan didukung oleh kerendahan hati dan kelapangan hati kita memberi
ruang bagi yang muda-muda, mereka bisa meneladani hal tersebut bagi
generasi-generasi GKKA selanjutnya.
Perlu juga kita pahami bahwa proses penyusunan buku Panduan
Liturgi ini belum selesai. MPHS akan
terus mengupayakan agar segera ada panduan liturgi untuk setiap momen
peribadahan komunal kita. Tetapi
setidaknya melalui Panduan Liturgi ini, kita sudah punya dasar pijakan yang
cukup kuat. Kita bisa memahami bentuk
dan metode ibadah kita. Kita juga punya
beberapa contoh liturgi ibadah. Untuk
hal-hal yang belum sempat disusun, silahkan tetap menggunakan buku Pegangan
Tata Ibadah 2003.
Atas nama MPHS GKKA INDONESIA saya mengucapkan banyak terima
kasih kepada Tim Revisi Liturgi GKKA
INDONESIA yang terdiri dari Ev. Margie Yang., B.CM., Pdt. Rickstofen Ricky
Palendeng, S.Th, dan Pdt. Char Ley Bun., B.Th.
Terima kasih juga saya haturkan kepada rekan-rekan yang sudah membantu
proses penyusunan buku ini. Terima kasih
untuk Ev. Alex Kanesa dan Pdt. Stephenson Yusia selaku Ketua dan Wakil Ketua Departemen
Teologia dan Ibadah, yang ikut mendampingi hingga selesainya buku ini. Terima kasih kepada Bpk. Christian TS (GKKAI
Makassar) atas persembahan lukisannya yang menjadi cover buku ini. Terima kasih
kepada Bpk. Donny Telim (GKKAI Panakkukang) yang membantu dalam editing
buku ini. Terima kasih juga untuk atensi dari setiap Gembala Sidang dan
Ketua-ketua Majelis, yang merupakan rekan kami di Majelis Sinode. Semoga, dengan semangat rela berkorban,
berkobar-kobar, dan buka ladang baru; kita kokohkan excellently ibadah
kita. Semoga ibadah kita berkenan di
hati-Nya, dan kita terus bertumbuh sebagai keluarga Allah, pelaku firman, dan
pemberita Injil. Haleluya! Soli Deo Gloria!
Surabaya, 05 Maret 2020
Pdt. Tjia
Ing Kie, S.E., M.Div.
Ketua
Sinode GKKA INDONESIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar